Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today1142
Yesterday1248
This week2390
This month32736
Total1364788

Visitor IP : 54.224.133.198
Unknown ? Unknown Tue 25 Jan 2022 17:34

        Selama di sarang perompak Somalia, Kita sering mendengar suara langsung dari Capt.Slamet Juhari di beberapa media elektronik. Dari sekian peristiwa selama pantauan masyarakat Indonesia melalui media massa itu, satu hal yang Reporter KAP3B News catat. Yakni, meski hatinya gundah lantaran “nyawa terancam”, namun dalam publikasi perbincangan Slamet Juhari di media elektronik mencerminkan sikap tenang dan tegar. Bisa jadi karena memamg sosoknya yang kalem atau sangat mungkin mental sudah kuat lantaran “Basis Mbah Bejan” di Singosari. Tapi itulah faktanya, dan Ia membuktikan sebagai pemimpin kapal yang berhasil melewati masa-masa krisis dengan selamat bersama 19 krunya. Saat acara syukuran yang digagas dan dimotori Sedulur-10 pada Senin lalu, Slamet Juhari berkesempatan untuk sedikit berbagi cerita suka dan dukanya. Berikut rangkuman singkatnya: Sejatinya, menurut pengakuan Slamet Juhari, saat menerima tugas untuk membawa MV Sinar Kudus menuju Rotterdam, Ia sudah merasakan ada firasat kurang bagus dan sempat minta untuk diganti. Namun tak juga ada penggantinya dan akhirnya Ia dengan terpaksa harus siap menjalankan tugas itu setelah adanya jaminan keamanan dan tambahan proteksi. Tiap hari Ia Update berita tentang perairan Somalia dan memang sangat mengkhawatirkan. Tidak meleset. Beberapa waktu sebelum kejadian naas, pihak asuransi sudah mengetahui akan adanya ancaman serius perompak, yang akhirnya menyuruh agar kapal dipagari kawat yang dialiri listrik dengan harapan perompak tidak bisa naik kapal. “Ini perintah yang secara teori pelaut sulit diterima, namun karena persyaratan dari asuransi maka kita ikuti,” kata Slamet mengenang yang disambut dengan gerrr oleh yang hadir. Ditengah kesibukan memasang kawat berduri tersebut, tiba-tiba kapal berbendera Somalia itu tiba-tiba menyalip Sinar Kudus, lalu berbalik haluan setelah empat mil di depan. Mereka menurunkan dua speed boat dari lambung. Hanya dalam hitungan menit, speed boat berisi empat dan enam orang itu melesat mendekat Sinar Kudus. Semua penumpang speed boat berbadan gelap. Mereka memanggul senjata api laras panjang berkalung peluru. Saat itulah, Kru Sinar Kudus baru sadar kalau mereka bajak laut. Menyadari bahaya yang mengancam, Capt.Slamet memerintahkan untuk extra speed guna menghindar, Tapi tetap saja, meski Sinar Kudus sudah empot-empotan mengenjot kecepatan hingga 12 knot/jam, kapal kargo itu masih kalah dengan kecepatan speed boat perompak yang mencapai 30 knot/jam. Lewat radio, seluruh awak kapal dihalo-halo untuk bersiaga. Semua akses masuk kapal ditutup, termasuk bagian mesin hingga pintu anjungan. Akan tetapi, dua speed boat itu memprovokasi dengan memotong haluan. Capt.Slamet Juhari menolak berhenti. Beberapa aksi akrobatik dilakukan menghindari para Lanun/ Perompak. Kesal lantaran tak patuh, para Lanun itu lalu menembaki ke arah lambung kiri. Sinar Kudus berusaha terus melaju dengan waspada. Tambah kesal, para lanun menembak lagi di arah kanan. Beberapa lanun lain menembak pistol ke udara. Dengan toa, mereka berteriak, “Stop it, Stop it!”Sinar Kudus tetap membandel. Kali ini, speed boat lanun nekat memepet kapal. Mereka meloncat dan naik kapal dengan tangga aluminium sepanjang 6 meter pada bagian kiri dan kanan. Melalui radio, Capt. Slamet masih berteriak, “Tutup dan Siaga!” Seluruh pintu memang ditutup dan dipalang, namun dari anjungan kiri para lanun itu mengedor-gedor pintu. Mereka berteriak mengancam akan meledakkan kapal. Perang kata itu berlangsung beberapa menit. Karena pintu kaca mudah ditembus dan Nahkoda takut ada korban jiwa, pintu itu akhirnya dibuka. Para perompak itu langsung masuk menyerbu dan menodongkan senjata. Sebelumnya, mualim Masbukin berusaha mencari bala bantuan. Menelpon UNKTO, koordinator pengamanan di semenanjung itu. UNKTO adalah gabungan tentara UN dengan tentara NATO. Kontak tak tersambung. Pihak Kru juga mencoba mengontak kantor Samudera Indonesia di Jakarta. Empat kali telpon tidak diangkat. Frustasi, Lalu memencet tombol pilihan terakhir, tombol SSI. sebagai sinyal pertanda kapal dibajak. “Malah orang CSO kantor telpon balik, tanya apakah sedang test SSI. Saya jawab, bukan, ini darurat beneran dan perompak sudah di samping kita, barulah mereka kaget,” cerita Slamet. Sebagian para perompak itu sudah ada di kapal. Berurutan, speed boat tambahan merapat dan naiklah gerombolan perompak tambahan dari tangga aluminium itu. Ujung tangga itu melengkung menyerupai jangkar dan mencengkeram bibir geladak. Mereka naik ke atas kapal sambil menodongkan senjata. Tak ada yang bisa diperbuat 20 awak kapal Sinar Kudus selain mengangkat tangan. Apalagi jumlah perompak yang naik ke atas kapal terus bertambah hingga sekitar 30 orang. Menggunakan bahasa Inggris yang tidak terlalu jelas, mereka meminta semua awak berkumpul di anjungan. Seluruh awak kapal digeledah dalam todongan senjata api. Mereka mengambil semua benda yang berada di saku sandera, termasuk ponsel dan kunci loker. Setelah berbicara dengan Capt.Slamet, beberapa perompak kemudian melakukan pemeriksaan terhadap muatan kapal. Tak hanya muatan bijih nikel yang diperiksa, seluruh kamar awak kapal berikut barang-barangnya diacak-acak. Mereka mengambil benda yang dinilai berharga, seperti ponsel, jam tangan, hingga laptop. Ketegangan dan kepanikan menyeruak ada di mana-mana. Capt.Slamet tidak henti menyakinkan awak kapal agar tidak memberikan perlawanan. Keadaan mulai sedikit tenang ketika salah satu perompak menjanjikan semua ABK yang disandera pasti dipulangkan dengan selamat ke Tanah Air. Keberadaan para perompak di atas kapal Sinar Kudus ternyata sudah diketahui dan disiarkan ke seluruh kapal yang melintas di perairan tersebut oleh petugas keamanan laut. Mereka diminta menjaga jarak sejauh 100 mil dari Sinar Kudus yang diidentifikasi sebagai kapal perompak. Usai memutuskan membajak Sinar Kudus, para perompak mengarahkan kapal kembali ke Perairan Somalia. Dari posisi tersebut, kapal diminta mendekat ke sebuah teluk dengan waktu tempuh delapan jam. Setelah sampai, jumlah perompak bertambah dari kelompok lain ikut mengepung dn berharap dapat jatah tebusan. Jumlah anggota pembajak pun bertambah menjadi 60 orang. Mereka tampaknya telah mengantisipasi proses negosiasi yang akan berlangsung lama. Sejak saat itulah drama penyanderaan para perompak dimulai. Baru dua hari Kapal Kargo Sinar Kudus dicengkeram perompak Somalia, sempat datang harapan dari sebuah kapal perang India. “Mereka mau menolong kami,” kenang Slamet. Hari itu, Jumat 18 Maret 2011, pukul 06.00 waktu setempat atau pukul 10.00 WIB. Saat itu,17 awak kapal dikumpulkan di anjungan. Tiga orang lagi tetap di ruang mesin melakukan tugasnya memantau kerja mesin kapal. Sekitar 30 perompak yang menguasai kapal meminta Nahkoda mengarahkan kapal ke Somalia. Saat itu, kapal kargo milik PT Samudera Indonesia itu dijadikan kapal induk untuk mencari sasaran pembajakan baru. Pagi itu, Sinar Kudus berpapasan dengan kapal Angkatan Laut India bernomor lambung 235. Tentara India memang rutin patroli di sana sebagai bagian dari pasukan asing yang menjaga daerah rawan tersebut. Kapal perang itu terus membuntuti Sinar Kudus, namun tak menjawab saat diminta menjauh lewat radio. Sekitar pukul 19.15 waktu setempat, Kapal India makin mendekat dengan Sinar Kudus. Jaraknya kurang dari setengah mil. Mendadak, kapal itu memprovokasi dengan menembakkan pelurunya ke arah perompak. Otomatis, Sinar Kudus dijadikan perisai hidup oleh perompak. Setelah sempat membalas tembakan, pimpinan gerombolan perompak Kapten Muhammad Sallah, kontan menodongkan senjatanya ke kepala Nakhoda Sinar Kudus Capt.Slamet. Di hadapan radio yang terpasang di frekuensi pelayaran internasional, VHF Ch.16, Slamet dan awak kapal disuruh berteriak meminta kapal India menjauh setidaknya dua puluh mil dari Sinar Kudus. Suasana di dalam anjungan terasa tegang, Tentu Mereka ingin diselamatkan, tetapi ingin selamat dan aman, Yang dilakukan India itu malah membahayakan. Baku tembak berlangsung tak lebih dari 15 menit, namun tak merusak badan kapal sama sekali. Setelah Nakhoda dan kru kapal berteriak di radio, kapal India perlahan menjauh. Dan saat itulah awal penderitaan selama 46 hari sebagai sandera dan akhirnya bisa bebas setelah Samudera Indonesia membayar tebusan dan dikawal oleh aparat TNI. “Pengalaman pahit ini harapan saya cukup di sini saja, mudah-mudahan ke depan ini jadi pelajaran bagi kita semua agar itu tak terulang lagi,” harap Slamet yang mengaku tetap siap jadi pelaut kerena itu adalah profesi yang dipilih dan cobaan itu sebagai konsekuensi tugasnya. Untung ada TNI Meski gerombolan Perompak Somalia telah melepaskan Kapal Sinar Kudus yang di Nakhodai oleh Capt. Slamet Juhari. M. Mar pada akhir April 2011 silam tak lama setelah mereka menerima uang tebusan dari Samudera Indonesia, ternyata kapal naas itu terancam lagi, ibarat “keluar mulut buaya masuk mulut harimau”. Pasalnya, setelah sempat disandera selama 46 hari oleh Perompak Somalia dibawah pimpinan M. Sallah, begitu dilepas maka kelompok perompak lain akan menyergapnya lagi untuk dijadikan sandera babak kedua dan akan dijadikan alat pemeras dolar bagi pemiliknya lagi. “Beruntung ada Tentara kita yang mengawal dari jarak sekitar 10 mil. Begitu ada kapal yang mencurigakan maka saya perintahkan kepada kru untuk menutup semua akses masuk, lalu saya memanggil kapal TNI yang memang sudah siaga, dan akhirnya betul Perompak itu sempat mengadakan perlawanan dengan tembakan ke kapal dan helicopter tentara kita dan mereka kabur dan tercatat empat orang tewas seketika,” kata Capt. Slamet Juhari dalam sebuah acara syukuran beberapa waktu lalu di Jakarta yang diadakan oleh Korps Alumni Pendidikan Perwira Pelayaran Besar Semarang, tempat dimana dulu Ia sekolah pelaut. Intinya, jelas Slamet, meskipun uang tebusan sudah dipenuhi, namun tanpa adanya pengawalan dari aparat dengan ketat dan tepat, maka bukan tidak mungkin Ia dan krunya akan terperangkap perompak lagi. **KAP3B News**