Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today40
Yesterday1111
This week40
This month18768
Total1034162

Visitor IP : 3.236.122.9
Unknown ? Unknown Mon 17 May 2021 01:03

      Bukan rahasia lagi, bahwa Angkatan 10 telah sukses menggelar acara reuni dengan back to campus (napak tilas). Sampai-sampai muncul harapan dari berbagai pihak bahwa semangat ”Sedulur 10” itu layak dijadikan pemacu dan pemicu bagi Angkatan lain untuk tetap menjalin silaturahmi dengan sesama Alumni Se-angkatan, dengan Almamater Campus dan dengan Alumni Angkatan lainnya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sedulur 10. Setelah berhasil menorehkan “tinta prestasi” silaturahmi back to campus, yakni reuni khusus Angkatan 10 pada tanggal 10 bulan 10 tahun ’10 khusus angkatan 10, maka ”Panitia Serba 10” tersebut secara resmi pada Tanggal 30 Oktober 2010 lalu bertempat di Rinjani View Cafe Semarang dibubarkan. Di Cafe yang bisa menatap sebagian besar wajah Kota Semarang itu, sekitar pukul 11 siang seraya menunggu santap siang, Herwin Siregar yang didaulat menjadi Ketua Panitia Silaturahmi Sedulur 10 memimpin jalannya rapat pembubaran Panitia. Di sini, Panitia mengupas tuntas dan transparan tentang hal ihwal Reuni Sedulur 10 yang lalu, mulai dari perjalanan awal hingga akhir. Tak kalah pentingnya adalah soal keuangan. Di sini Panitia memaparkan dengan detail dari mana datangnya dan kemana keluarnya uang. Sehingga seperak pun uang yang masuk dari para donatur dan yang dikeluarkan oleh Panitia terekam semuanya dan bisa di pertanggung jawabkan. Setelah melalui pemaparan yang jelas dari Ketua Panitia dan diwarnai dengan diskusi yang hangat dan menggambarkan rasa kepuasan yang mendalam atas berhasilnya ”hajatan besar” Sedulur 10 tersebut, akhirnya ”Floor” secara serempak menerima laporan pertanggungjawaban Ketua Panitia tersebut. Selanjutnya ”ketok palu paripurna” dibunyikan dan dinyatakan ”Per 30 Oktober 2010, Panitia Reuni Serba 10 secara resmi dibubarkan. Selanjutnya Tongkat Koordinatoriat Sedulur 10 dikembalikan kepada Toto Sugianto-10 selaku Koordinator Khusus Angkatan 10”. Dengan demikian, ibarat peribahasa ”Datang tampak muka pergi tampak punggung”. Dalam hal ini adalah Herwin Siregar dan Panitia lainnya memulai bekerja sejak dibentuknya kepanitiaan dengan wajah yang penuh optimistis dan kini meninggalkan pekerjaan itu dengan lenggang tegap tanpa ada beban moral. Yang lebih membanggakan adalah, ”Panitia Serba 10” berhasil menyisihkan sisa dana dari hajatan tersebut. Oleh sebagian besar yang hadir dalam pembubaran Panitia itu disepakati bahwa sisa dana diserahkan kepada Koordinator Sedulur 10 yakni Toto Sugianto, karena Mereka menilai bahwa sejak dibentuknya ”Panitia Serba 10”, entah berapa tak terhitung Sang Koordinator merogoh koceknya untuk mendukung demi suksesnya perjalanan menuju Puncak Acara Serba 10 tadi. Keputusan Floor diterima oleh Toto Sugianto.

     Namun, begitu sisa dana diterima, Toto S tak buru-buru memasukkannya ke dalam saku. Melainkan dana sisa itu diputuskan agar ditambahi lagi oleh yang hadir untuk dirubah menjadi “dana peduli sosial Sedulur 10” untuk membantu korban musibah bencana meletusnya Gunung Merapi. Teknis penyalurannya dipercayakan kepada Agustinus Botha-10 untuk disampaikan kepada Masyarakat yang kena musibah meletusnya gunung Merapi yang oleh penduduk setempat dikenal dengan “wedhus gembel” Ini artinya, di balik suka cita sukses Hajatan Sedulur 10 tersebut, tersimpan juga rasa keprihatinan kepedulian sosial terhadap bencana dan musibah yang melanda saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Kejutan Apresiasi dan Mau Kemana ”Gerbong 10” Dalam acara pembubaran Panitia itu, diam-diam Toto Sugianto selaku koordinator 10 berinisiatif untuk memberikan apresiasi kepada semua Panitia, termasuk perwakilan Panitia dari ”Campus Singosari”.

       Apresiasi dimaksud sebagai penghargaan adalah berupa ucapan terima kasih yang dituangkan dalam sebuah kertas piagam yang berbingkai menarik. Usai seremonial pembubaran Panitia, Mereka tak langsung Good Bye. Melainkan secara alamiah terbentuklah diskusi kecil yang mengarah pada perjalanan ”Gerbong Sedulur 10”. Diskusi sangat dinamis dan penuh ide-ide bagus. Sampai-sampai muncul gagasan agar Paguyuban ini makin dikuatkan ”voltase-nya” untuk dijadikan ’Organisasi’. Namun, Toto S. Selaku koordinator buru-buru ”menginjak rem”. Ia menyarankan agar ”Gerbong Sedulur 10” tetap menjadi paguyuban di bawah naungan Organisasi Besar KAP3B. Paguyupan Sedulur 10 cukup ada seorang Koordinator yang statusnya sama dengan semua anggota, hanya saja Ia melakukan koordinir saja. Keputusan ini akhirnya dapat diterima oleh Floor. Untuk menjadi Paguyuan yang solid. Menurut Toto Sugianto, memang tak bisa dilepaskan oleh faktor finansial. Pepatah Jawa mengatakan ”Jerbasuki Mowo Biyo” (maknanya : kesuksesan itu butuh pengorbanan dan biaya). Meski demikian, berdasarkan analisa iuran tetap acapkali menjadi kendala bagi sebagian Alumni untuk aktif bersilaturahmi. Untuk itulah, hanya dibutuhkan kesadaran dari masing-masing saja. Misal, Alumni Mr. X, di tengah hiruk-pikuknya sedang berlayar dari jauh seberang sana, tiba-tiba mengontak sang Koordinator bahwa Ia siap menyisihkan sebagian dari hasil keringatnya untuk dana sosial Angkatan 10. Dan ini konon, di Angkatan 10 disebut-sebut sudah ada sekitar 10 Alumni ”Mr. X”. Nah, nampaknya model semacam inilah seperti beberapa ”Mr X” tadi, dan jika terus bertambah satu demi satu, maka roda komunikasi dan roda sosial Alumni akan tetap solid. Petuah Religius sering mengatakan, Jangan takut jatuh miskin hanya lantaran bersedekah. Takutlah miskin karena Anda tidak bersedekah. Semoga. **REPORTER KAP3B NEWS**