Saturday, 23rd June 2018 03:46:57

GAJAH DI PELUPUK MATA Oleh :Kolonel Cba Dr. Yusuf Ali,S.E, M.M (ANT-III)

 


1.           Pendahuluan.        

Hampir dapat dipastikan jika kita melihat keberhasilan suatu negara, maka kita ingin Negara kitapun dapat berhasil seperti itu pula. Demikian juga jika kita melihat keberhasilan suatu organisasi atau keberhasilan seseorang, maka kita juga ingin satuan kita atau diri kita bisa memperoleh keberhasilan yang sama. Tetapi keinginan untuk berhasil itu kadangkala tidak dibarengi dengan keinginan untuk mengetahui atau mempelajari bagaimana prosesnya sehingga negara/satuan/seseorang itu bisa memperoleh atau mencapai keberhasilan. Kita lebih banyak mempunyai harapan keberhasilan itu datang tiba-tiba, seolah jatuh dari langit. Kita lebih sering mengandalkan peruntungan nasib/takdir untuk mencapai keberhasilan.

 Kebiasaan memperoleh sesuatu tanpa kerja keras ini menimbulkan budaya instant pada diri kita. Yang lebih memprihatinkan jika setiap hari kita juga senang dicekoki tayangan budaya instant yang ada di sinetron televisi. Seolah-olah demikian mudahnya seseorang bisa mendapatkan keberhasilan tanpa upaya dan kerja keras, dengan berharap pada kejadian yang sifatnya kebetulan semata. Budaya yang bersifat instant ini menyebabkan kita hanya senang meniru orang lain, kita menjadi malas untuk berinovasi dan tidak termotivasi untuk mencari dan mengembangkan potensi  yang kita miliki atau potensi yang ada di sekitar kita. Sehingga seperti kata pepatah “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.

 2.      Mencari Potensi.                  

Tuhan yang menciptakan kita serta alam semesta ini sangatlah adil. Kita diturunkan di dunia ini dengan membawa potensi pada diri masing-masing. Oleh karena itu jika kita ingin berhasil dalam hidup ini, carilah potensi pada diri kita masing-masing. Banyak kisah sukses yang kita dengar dan ketahui dari kehidupan seseorang, jika kita gali untuk mengetahui prosesnya, maka akan tampak bahwa kisah keberhasilan itu bermula dari pencarian potensi diri, lalu potensi itu dikembangkan dan dieksploitasi sehingga tercapailah keberhasilan-keberhasilan itu. Potensi yang dicari oleh seseorang/satuan/negara, bisa berupa potensi secara fisik/tangible yang nampak secara visual seperti sumber daya alam, maupun potensi yang tidak tampak secara fisik/intangible tetapi bisa dirasakan seperti sifat/karakter seseorang kreatifitas, inovasi dan lainnya. Potensi tangible seperti sumber daya alam dapat dicari dengan memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat saat ini. Untuk mencari potensi intangible dapat dengan perenungan/berkaca diri, melalui kegiatan conselling maupun umpan balik (sesuai kaidah manajemen modern yang saat ini banyak diterapkan pada kegiatan evaluasi personel pada organisasi) atau dengan mencari informasi tentang potensi itu dari orang lain maupun dari media informasi yang ada. Oleh karena itu kita harus mau terbuka untuk menerima masukan dari orang lain. Contohnya adalah kisah penulis yang sangat sukses di Indonesia saat ini, pada awalnya dia tidak menyadari potensi besar sebagai penulis pada dirinya, tetapi setelah diberitahu oleh temannya/isterinya, maka potensi itupun disadari oleh yang bersangkutan. Demikian pula dengan potensi negeri kita, karena kita tidak menyadari potensi itu, maka negara lain yang menikmati keuntungan dari ketidaktahuan kita. Contohnya adalah penjualan barang seni hasil dari kreatifitas serta potensi sumber daya alam kita seperti bahan tambang dan potensi bahari (pelayaran, perikanan, pariwisata, serta hasil laut yang lain) yang dieksploitasi oleh perusahaan/orang asing.

 3.      Pengembangan Potensi.    

Potensi merupakan bakat atau sumber daya yang terpendam, potensi harus dicari diekploitasi dan dikembangkan. Untuk mengembangkan potensi, maka pikiran kita jangan membatasi penglihatan. Jika pikiran kita dipengaruhi oleh budaya instant, maka penglihatan kita juga akan dibatasi pada potensi orang lain yang bisa kita tiru. Oleh karena itu singkirkan rintangan yang ada pada pikiran kita, sehingga kita lebih terbuka untuk pengembangan potensi. Kita bisa mengambil pelajaran tentang pengembangan potensi dari beberapa kisah di bawah ini.

Pada suatu hari seorang teman Si Fulan melihat tumpukan kertas teronggok dan nampaknya sudah lama dibiarkan ada di meja Si Fulan. Kertas-kertas itu merupakan tulisan Si Fulan yang sudah lama tidak diselesaikan. Setelah membaca tulisan Si Fulan, maka temannya itu melihat potensi besar sebagai penulis hebat pada diri Si Fulan, didesaknya Si Fulan untuk menyelesaikan tulisannya dan menawarkan kepada satu penerbit untuk menerbitkan tulisan tersebut. Setelah tulisan itu diterbitkan, tidak membutuhkan waktu lama tulisan itu menjadi best seller (dikutip dari kisah penulis Laskar Pelangi dan Negeri Lima Menara).

Kisah lain dari pengembangan potensi adalah cerita tentang seorang pelayan yang berasal dari rakyat biasa tetapi karena tekad yang kuat, kerja keras serta kesadaran bahwa dirinya memiliki potensi sebagai pemimpin, selanjutnya potensi kepemimpinan itu ia kembangkan sehingga memperoleh kepercayaan dari tuannya, mulai dari memimpin kelompok pelayan sampai dengan memimpin pasukan kekaisaran yang besar dengan berhasil (dari kisahToyotami Hideyoshi), lalu kisah sukses lain dari pengembangan potensi melalui ide kreatif dan akhirnya meraup keuntungan besar dan menjadi salah satu produk yang terlaris di pasaran Jepang, adalah kisah pengembangan potensi kreatifitas pensil 0,2 mm yang tidak gampang patah sehingga bisa digunakan untuk menulis huruf kecil, serta sukses penjualan penanda buku bergambar tanda Tanya dan tanda seru yang laris manis dibeli oleh para siswa di Jepang.

 Kita juga bisa belajar dari kisah sukses pengembangan potensi ekonomi dari kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan dengan mengembangkan potensi pertanian dan distribusi logistik di daerahnya serta pemahaman potensi ekspor terhadap komoditi pertanian ke Negara Jepang melalui potensi jaringan alumni pendidikan di Jepang, maka gabungan dari pengembangan beberapa potensi itu menciptakan keberhasilan. Kisah sukses Facebook serta Google juga tidak lepas dari pengembangan potensi, baik itu potensi para pendirinya maupun potensi karyawannya.

Untuk contoh pengembangan potensi di lingkungan Alumni/Anggota  KAP3B, kita bisa belajar dari pengembangan potensi alumni yang berlatar belakang Navigator/Tehnisi/Administrator Pelabuhan lalu bertransformasi menjadi pengusaha yang sukses, politisi dan pengembangan pada profesi yang lain seperti Pilot pesawat udara, anggota TNI maupun Polri serta profesi lain di luar dunia pelayaran. Banyak sekali jika kita akan jelaskan contohnya di sini, tetapi sebagian besar Alumni sudah mengetahui hal itu.

Pengembangan potensi dalam suatu organisasi harus dilakukan oleh pemimpin melalui program pelatihan maupun pendidikan serta memberikan motivasi kepada bawahannya untuk secara mandiri mengembangkan potensi individu. Pemimpin harus dengan jeli melihat potensi yang dimiliki bawahannya, sehingga dapat menempatkan orang yang tepat pada jabatan/pekerjaan yang tepat. Pada kondisi tertentu seorang pemimpin juga harus dengan tegas dapat menyampaikan kepada bawahannya jika potensinya digunakan secara tidak tepat. Demi kepentingan organisasi pemimpin juga harus punya keberanian untuk mengambil keputusan memindahkan bawahannya yang kurang punya potensi, karena hanya dibawah kepemimpinan orang yang potensial maka organisasi dapat berkembang dengan baik.

 

4.      Kesimpulan.      

Mencari potensi dan mengembangkannya untuk mencapai keberhasilan sangatlah penting. Potensi telah diberikan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta kepada kita maupun pada alam ini untuk menunjang pencapaian keberhasilan umat manusia. Pengembangan potensi dalam suatu organisasi harus dilakukan oleh pemimpin, melalui pendidikan/latihan serta pemberian motivasi. Oleh sebab itu cari dan kembangkan potensi itu, lakukan dengan kerja keras serta bersungguh-sungguh, tidak perlu kita melihat kuman di seberang lautan, karena ada gajah (potensi) di pelupuk mata yang bisa kita kembangkan. Jika kita melakukannya maka Insya Allah keberhasilan demi keberhasilan akan diperoleh. Semoga tulisan yang sederhana ini bermanfaat bagi kita semua.

Oleh: Kolonel (Cba) Dr. Yusuf Ali, SE., MM., (ANT-III).