Get Adobe Flash player

Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today496
Yesterday1030
This week7080
This month6246
Total952225

Visitor IP : 3.239.158.36
Unknown ? Unknown Sun 07 Mar 2021 09:18

 

Pelaut Indonesia kembali mengalami naas. Sebelas pelaut yang bekerja di kapal perikanan Rusia tenggelam di perairan utara Jepang akibat cuaca ekstrim pada 27 Januari 2013. Empat pelaut Indonesia selamat, 7 lainnya belum ditemukan.

Ketua Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Hanafi Rustandi kepada pers mengatakan, sebelas pelaut Indonesia yang menjadi awak kapal perikanan Rusia “Shanse-101” tenggelam di laut dekat pulau Svetlaya, Rusia Timur, akibat kapal penangkap ikan itu dihantam dua gelombang besar di tengah cuaca yang sangat ekstrim. Kapal ikan ber­bendera Rusia milik perusahaan perikanan  ‘Vostok-J’ itu diawaki 30 orang, terdiri dari 19 orang warga negara Rusia dan 11 orang pelaut Indonesia.

Dalam kecelakaan yang terjadi pada 27 Januari 2013 pukul 15.30 waktu setempat (Vladiwostok), sebanyak 23 ABK (anak buah kapal) berhasil selamat dalam dua rakit saat ditemukan di dua lokasi terpisah oleh dua kapal lain yang lewat.

Rakit pertama berisi 18 ABK, tetapi 8 orang di anta­ranya ditemukan tewas. Mereka diselamatkan kapal kargo Rusia  ‘MV Anatoli Torchanov’ dan kemudian dibawa ke pulau Shakalin di Pasifik.

Sementara rakit kedua yang berisi 5 orang dan se­mua­nya selamat, ditemukan oleh kapal ikan FV Talan yang kemudian dibawa ke Rusia Timur Jauh.

Sedang tujuh ABK lainnya yang semuanya pelaut Indonesia, hilang dan sampai sekarang belum ditemukan.Dari 19 pelaut Rusia di kapal tersebut, 11 selamat dan 8 lainnya hilang.

Hingga  berita ini diturunkan, nasib tujuh pelaut perikanan Indonesia yang hilang di perairan utara Jepang, belum diketahui pasti. Namun 4 pelaut lainnya yang ditemukan selamat dan kini masih dirawat di sebuah rumah sakit di Pulau Shakalin, Rusia, kondisinya berangsur membaik.

Korban Trafficking?

Menurut Hanafi, ke-4 pelaut Indonesia yang selamat adalah Ferry Seftianto, Abdul Muhamad Muksin, Karyana dan Nurhasim.  Sedang ke-7 pelaut yang hingga kini belum diketahui nasibnya adalah Hendra Scorpianto, Agustinus Staniapessy, Medi Setiawan, Daskunah, Zaenal Arifin, Adi Pamuji, dan Puji Sulistiawan.

Lebih jauh dikatakan, hingga saat ini KPI belum mengetahui crew agent yang mengirim dan menem­patkan pelaut Indonesia di kapal perikanan Rusia itu. Dari organisasi pelaut Rusia diperoleh keterangan bahwa ke-11 pelaut Indonesia itu bergabung ke kapal ikan Rusia melalui pelabuhan Bushan, Korea Selatan.

Dari pelabuhan ini, pelaut Indonesia diangkut dengan kapal khusus ke tengah laut untuk naik ke kapal perikanan berbendera Rusia, ‘Shanse-101’. “KPI belum mengetahui proses rekrut dan perlindungan pelaut Indonesia yang bekerja di kapal ikan Rusia itu. Termasuk apakah mereka dilindungi PKL(Perjanjian Kertja Laut) atau tidak,” tegasnya seraya menam­bahkan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan organsasi pelaut Rusia untuk mengetahui perkem­bangan kasus tersebut.

Tidak jelasnya crew agent dan proses perekrutan maupun perlindungan pelaut Indonesia di kapal ikan asing, Hanafi menduga keras pelaut Indonesia itu menjadi korban perdagangan manusia (human traffi­cking). “KPI masih terus mencari crew agent tersebut untuk mengetahui proses perekrutan dan perlindungan pelaut kita di kapal ikan Rusia itu,” ujarnya.

Mencari kelemahan

Banyaknya kasus dalam pengiriman pelaut ke luar negeri yang terus berulang, menurut Hanafi, menun­jukkan pemerintah melakukan pembiaran terhadap pelanggaran yang merugikan pelaut. Crew agent memang mencari kelemahan, di tengah kekosongan hukum akibat pemerintah sampai sekarang belum menerbitkan aturan tentang prosedur rekrut dan penempatan pelaut ke luar negeri oleh crew agent  atau Manning Agency.

“Undang-undang Pelayaran menegaskan Menteri Perhubungan harus segera menerbitkan peraturan itu, tapi sampai sekarang tidak kunjung terbit juga,” tuturnya.

Sebelumnya, aturan tersebut telah ditegaskan oleh Dirjen Perhubungan Laut melalui surat edaran No.UK11/21/12/DJPL-06/2006. Aturan untuk memini­malisir kasus itu menegaskan pengiriman pelaut ke luar negeri harus dilindungi PKL dan buku pelautnya sudah disijil.

Tapi belakangan banyak terjadi, paspor pelaut di sign on oleh imigrasi di bandara tanpa melihat pelaut dilengkapi PKL dan buku pelautnya sudah disijil atau belum. “Kondisi ini menyebabkan terjadinya pengiriman pelaut secara illegal. Petugas imigrasi harus ikut ber­tanggungjawab,” tegasnya.

Untuk itu, Hanafi mendesak pemerintah segera membenahi dan menertibkan pengiriman pelaut ke luar negeri. Landasan hukumnya harus dipertegas melalui peraturan Menteri Perhubungan, sehingga setiap terjadi pelanggaran harus ditindak tegas tanpa pandang bulu.

News/(Sumber:Tabloid Maritim)