Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today1139
Yesterday1248
This week2387
This month32733
Total1364785

Visitor IP : 54.224.133.198
Unknown ? Unknown Tue 25 Jan 2022 17:33

       Meski berhasil menjalankan tugas dalam hal mampu memimpin dan mempertahankan jiwa crew dan muatan selama ber-hari-hari di sarang Perompak Somalia, namun sepertinya di negeri sendiri, Capt. Slamet Juhari seperti “diacuhkan” begitu saja setelah kembali ke tanah air. Anehnya, ketika ada wacana untuk diadakan pemberian “Apresiasi Khusus” atas tugas yang berhasil diemban oleh Slamet Juhari sebagai seorang Nakhoda, namun ada beberapa orang yang tak setuju, dengan alasan ini dan itu yang rasanya sulit diterima dari sisi kepelautan. Mereka yang menolak itu hanya berdasarkan pertimbangan untung rugi alias “duit”. Ya memang karena faktanya KM.Sinar Kudus berhasil bebas lantaran ditebus. Itu saja yang dilihat secara kasat mata. Padahal ada hal lain yang bisa untuk menganalisanya lebih jauh lagi. Tapi sudahlah….. beginilah memang mental bangsa ini. Dan Capt. Slamet-pun tak mau ambil pusing atas keadaan ini. Toh Ia tetap bersyukur bisa selamat. Waktu terus bergulir setelah Slamet Juhari pulang ke tanah air dan sampai kini belum kembali berlayar. Di negerinya sendiri boleh saja Ia “dicuekin”, tapi siapa sangka diam-diam, International Transport-workers Federation (ITF) yang berpusat di London menaruh perhatian terhadap Capt. Slamet Juhari yang sempat “menghebohkan” dunia pelayaran lantaran kapalnya dibajak Perompak Somalia beberapa hari dan akhirnya selamat bersama Crew-nya melalui pembebasan hasil negosiasi. Bentuk perhatian itu adalah diundangnya Slamet Juhari beserta keluarga untuk menghadiri sebuah hajatan besar tahunan ITF dan Sea-Men Philippina yang dipusatkan di Manila. Acara itu sekaligus dalam rangka meeting untuk masalah Implementing Secure Converged Wide Area Networks (ISCW). Kegiatan itu antara lain seminar dan bertukar pikiran dan lainnya. Selama 7 hari sejak tanggal 1 s/d 7 Agustus, Capt. Slamet Juhari layaknya “pengantin baru” yang dimanjakan untuk dihibur dan menikmati liburan di Manila. Dalam hal ini Slamet yang ditemani anak dan Isterinya terima “bongko’an” saja, alias semua Transportasi, akomodasi ditanggung ITF dan Ia tinggal duduk manis. Kehadiran Slamet Juhari ke Manila oleh Panitia Hajatan setempat memang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Buktinya, dalam media cetak setempat, jauh sebelum pelaksanaan pihak panitia menyebut bahwa acara akan dihadiri oleh Capt. Slamet Juhari Nakhoda KM.Sinar Kudus yang sempat dirompak di Somalia. Kepada Reporpter KAP3b News selang beberapa saat setelah pulang ke tanah air ketika dikonfirmasi Capt. Slamet Juhari mengatakan, kehadirannya ke Manila oleh panitia spiritnya adalah untuk menghibur dan upaya memupus rasa trauma para pelaut yang terkena kasus perompakan. Ini tentu sebagai bagian dari bentuk kepedulian dan perhatian ITF terhadap pelaut sebagai salah satu anggotanya. Dalam berbagai diskusi, Slamet sempat mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan peserta dari berbagai Negara. Awalnya, Ia akan disiapkan untuk berbagi pengalaman, namun akibat ketatnya waktu maka Ia cukup diminta menuangkan pengalamannya dalam bentuk tulisan yang akan jadi bahan bagi ITF. *JAUH PANGGANG DARI API* Dari perjalanan ke Manila itu, yang paling membuat perasaan Slamet Juhari tercengang dan decak kagum adalah solidnya organisasi pelaut di Filipina. Betapa tidak, acara Pelaut itu dibuka langsung oleh Presidennya ( Benigno Aquino III). Menurut Slamet, perhatian pemerintah Filipina begitu kuat terhadap organisasi pelaut. Begitu juga, pelautnya di sana sangat solid sehingga dipandang oleh pemerintah. Lain halnya di Indonesia yang sepertinya organisasi pelaut kita (KPI) justru dipandang “ sebelah mata” oleh pemerintah. Pelaut punya kekuatan di sana. Anggotanya rela dipotong saat teken kontrak, karena peruntukannya jelas. Yakni, kesejahtaraan saat di darat dijamin, sebab pelaut di sana punya rumah sakit, punya mall besar tingkat Asia sebagai “mesin uang” bagi organisasi itu. Intinya, antara pelaut di Indonesia dan Filipina perbedaannya sangat jauh. Kita bak “Jauh panggang dari apinya” sehingga sangat sulit untuk mencapai “ kematangan” sematang pelaut Filipina. **KAP3B News**