Wednesday, 19th December 2018 21:00:30

Sosok: Ruing Theofilus (VIII), Sang Petualang dari Timor Yang Peduli Dengan Solidaritas Alumni

      Bagi Angkatan-VIII P3B khususnya dan bagi sejumlah Alumni Angkatan lain, sosok Capt. Ruing Theofilus, M. Mar yang biasa dipanggil dengan Capt. Theo bukanlah asing lagi. Sebab, pria kelahiran Kesa Menano, Timor pada 20 Desember 1958 ini, waktu menjalani penggodokan di Bumi Singosari Semarang di bawah “tangan keras” Mbah Bejan sudah dikenal sebagai “Bintangnya Basis-8”. Dan kini, Capt. Theo ternyata juga dikenal sebagai satu “bintang” dari sekian “bintang-bintang” Alumni yang peduli dengan Almamater Singosari. Sebab, Ia selalu akan berupaya maksimal untuk terlibat aktif ketika “dicolek” untuk urusan Alumni. Nampaknya Ia pantang dengan pribahasa “kacang lupa akan kulitnya” (orang lupa akan masa lalunya). Dengan Karunia profesi yang dimiliki saat ini sebagai praktisi pelayaran, Capt. Theo berusaha untuk selalu berbagi, terutama untuk kepentingan Alumni. Sejumlah kepedulian berbagi dan rasa solidaritas telah ditunjukkan olehnya, antara lain di wilayah kerjanya di Banjarmasin, Ia ikut menghidupkan obor komunikasi Alumni dengan mendukung berdirinya Mess Alumni P3B status milik. Selain itu juga, Ia mendukung dalam berbagai kegiatan silaturahmi Alumni khususnya Angkatan VIII, yang belakangan dengan acara Reuni VIII di Merak pada 10 Oktober 2010. Dan yang paling “gress” adalah ketika mendengar Slamet Jauhari-10 CS yang disandera oleh Perompak Somalia dengan kapalnya MV. Sinar Kudus, Ia men-support penuh (baik fisik maupun material) ketika Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Priok mengerahkan massa Pelaut untuk mengadakan aksi demo mendesak segera dilakukan pembebasan Mereka. Ketika berbincang dengan Reporter KAP3B News, Capt. Theo secara “blak-blakan” menceritakan perjalanan hidupnya yang memiliki prinsip “manusia harus bisa berbagi satu sama lain”. Awalnya, Pria yang dikaruniai 3 buah hati dari pernikahannya dengan “Bidadari” Dayak pilihannya, tak menyangka kalau kini menjadi praktisi bisnis pelayaran. Sebab, sejak SMP sebetulnya Ia bercita-cita ingin jadi seorang arsitek bangunan. Untuk mewujudkan “mimpi” sebagai arsitektur itu, begitu lulus SMA pada tahun 1977 Ia “lari” ke Bandung untuk mendaftar menjadi mahasiswa di ITB. Mimpi Theo itu nampaknya harus dikubur dalam-dalam, sebab keberuntungan belum berpihak kepadanya ketika Panitia Seleksi Mahasiswa ITB tidak mencantumnya namanya sebagai calon Mahasiswa alias tidak lolos test. Theo kecil lantas tidak putus asa. Ia tetap berharap ada jalan lain yang akan ditempuh dari Kota “Parahiyangan” itu. Betul, tak lama setelah itu tiba-tiba di rumah kost Kakaknya tempat di mana Theo Ruing numpang sementara, Ia digoda oleh sebuah iklan pada Harian Kompas yang memuat advertorial pendaftaran calon Taruna P3B Semarang. Ia makin semangat ketika membaca dalam iklan itu ada kalimat “ Anda akan dididik untuk menjadi Perwira Pelayaran Besar yang siap mengarungi Samudera luas”. Karena memang Theo Ruing juga memiliki jiwa seorang adventure (petualang), tanpa pikir panjang Ia meluncur ke Kampus Singosari Semarang (P3B) untuk ikut mendaftar. Di sinilah, Ia mantap untuk memulai meniti jalan hidupnya setelah pihak Kampus P3B menyatakan untuk menerima sebagai CaTar (Calon Taruna) dan siap-siap masuk dalam gemblengan mental oleh sejumlah Instruktur, terutama Mbah Bejan. Selama sekitar 3 tahun di bawah “Singosari”, termasuk Prola dengan berlayar di perairan Asia, maka tahun 1981 Theo berhasil menyelesaikan tugas pendidikannya dengan sukses dan langsung gabung dengan Perushaaan Pelayaran Djakarta Lloyd hingga tahun 1990. Selanjutnya, Ia meningkatkan ilmu kepelautannya dengan mengambil Program MPB-II (kini ANT-II). Setelah berhasil mengantongi ijazah MPB-II pada tahun 1992, Theo bergabung dengan Pelayaran Lintas Segara hingga tahun 1993. Setelah itu (tahun 1993) kalau dalam olah raga bulu tangkis ada istilah “gantung raket” maka Theo Ruing –pun menyatakan “Gantung Kemudi” alias berhenti sebagai Pelaut. Ia merasa sudah cukup “kenyang” dengan ombak yang menantang dalam kehidupannya di atas lautan. Selama bertahun-tahun berlayar itulah Ia sudah cukup puas menikmatinya sebagai seorang yang punya jiwa Petualang. Nah, setelah “Gantung Kemudi” itulah, katanya, berkat dorongan teman-teman di darat, dan berkat relasi yang dibangun selama tahunan di atas kapal, Theo akhirnya memutuskan untuk bergabung di Perusahaan Pelayaran sebagai Karyawan darat sekaligus terus mempelajari system kerja yang baik dan professional berlangsung dari pertengahan tahun 1993 s/d tahun 2003. Lagi-lagi, setelah mempunyai pengalaman kerja di darat selama sekitar 10 tahun, maka Theo memutuskan untuk mundur dari Perusahaan tersebut dan memberanikan diri untuk mendirikan Perusahaan Pelayaran di Banjarmasin-Kalimantan Selatan. “Saya inikan punya prinsip bahwa hidup ini harus berbagi kepada sesama. Nah, kalau saya ikut kerja di perusahaan milik orang, maka gerakan untuk bisa berbagi jelas sangat terbatas, namun dengan memiliki usaha sendiri, maka Saya bisa leluasa untuk bisa berbagi kepada sesama,” ungkap Capt, Theo Ruing M. Mar, tanpa bermaksud menyombongkan diri, tetapi sekedar berpegang kuat pada prinsip. Hasilnya tidak sia-sia, dengan menjadi “raja” di rumah sendiri maka Theo benar-benar memegang teguh prinsipnya untuk bisa berbagi, apakah kepada lingkungan yang perlu sentuhan sosial maupun untuk urusan Almamater Alumni Singosari. Ia mengakui, ukiran yang melekat di jiwanya soal berbagi dan peduli itu bisa terpatri kuat lantaran adanya proses Basis di Asrama Singosari. “Kita ini Alumni merasa seperti satu induk saat di Asrama, bagaimana suka duka dirasa bersama, contoh kecil yang tak terlupakan adalah satu sikat gigi dipakai untuk semuanya. Inilah simbol pembelajaran betapa kita ini harus membangun solidaritas,” tutur Theo Ruing yang pada tahun 1997 berhasil menyelesaikan Puncak Pendidikan Kepelautan yaitu MPB-I dan pada tahun 2007 updating Master Mariner (ANT-I) di BP3IP Sunter Jakarta. Seperti kebanyakan Taruna saat itu, kenang Theo, Ia juga termasuk Taruna yang pernah menikmati “loncat pagar”. Aksi nekat yang tentu disadari betul akan akibatnya itu, yakni jika ketangkap basah Mbah Bejan bisa panjang urusannya, Ia lakukan untuk melihat pertunjukan band. Pokoknya, kalau ada pertunjukan band maka sejak sore Ia sudah atur stragegi aksi loncat pagar. “Saya ini sangat suka dan hobby dengan musik, maka kalau dapat hukuman pasti saya disuruh menyanyi menghibur kawan-kawan,” ungkap Theo mengenang. Dimintai tanggapan soal nasib Slamet Jauhari-10 CS yang disandera oleh Perompak Somalia, Theo Ruing mengaku sangat prihatin yang mendalam. Makanya, begitu ada rencana Aksi Demo Damai Pelaut yang dikoordinir KPI Priok pada 18 April 2011 lalu, Ia mendukung penuh lahir bathin atas aksi solidaritas itu. “Saya ini mantan Pelaut. Jadi tahu bagaimana rasanya sebagai Pelaut, maka ketika mendengar kasus itu, langsung kita berupaya membantu sekuatnya. Mestinya memang harus begitu, siapapun Dia kalau Pelaut Indonesia terkena masalah maka sebagai sesama pelaut harus punya solidaritas sesamanya,” ujar Theo Ruing setengah bermaksud mendorong Pelaut-Pelaut agar terus bersolidaritas. **KAP3B News**