Get Adobe Flash player

Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today128
Yesterday738
This week3086
This month10002
Total814094

Visitor IP : 34.200.222.93
Unknown ? Unknown Fri 14 Aug 2020 04:50

    Sejak kecil, sebenarnya Letnan Kolonel (Kopassus) Yusuf Ali, angkatan XVIII P3B Singosari yang mempunyai NRP: 8307560 Nautika, bercita-cita jadi Insinyur Kehutanan. Hal itu lantaran sewaktu kecil, kampung halamannya di Gedong Tataan Lampung sangat dekat dengan hutan dan Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain di hutan. Hal itu terlihat di Riwayat Pendidikannya sebagai berikut: SD Negeri 2, Pringsewu, Lampung pada tahun 1971 s/d 1976 SMP Negeri 1, Gading Rejo, Lampung pada tahun 1977 s/d 1980 SMA Negeri 1, Pringsewu, Lampung pada tahun 1980 s/d 1983 Setelah menyelesaikan pendidikan SMA tahun 1983, ia memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Nah, di Ibukota Negara inilah cita-citanya berubah dari Insinyur menjadi Pelaut. Hal ini setelah keluarga yang ia tumpangi di Jakarta mendorongnya untuk jadi Pelaut. Untuk meyakinkan dia, bahwa profesi pelaut itu prospektif, keluarga mengajaknya untuk keliling dan ditunjukkan rumah-rumah Pelaut di daerah Pulomas dan sekitarnya yang tergolong mewah. Dari situlah ia mulai “tergoda” pikirannya untuk bisa sukses sesukses Pelaut sebagaimana yang Ia saksikan secara fisik tersebut. Selanjutnya, ia diarahkan oleh keluarganya untuk melanjutkan pendidikan di P3B Semarang. Lagi-lagi, di “Singosari” inilah cita-citanya kembali berbelok arah setelah pada tahun 1987 begitu Ia dinyatakan tidak HER, Ia memperolah “sampur” ( maksudnya panggilan ) untuk mengikuti program Wajib Militer di Magelang.

      Dari 60 taruna seangkatannya, hanya 16 yang dinyatakan tidak Her termasuk dia. Tanpa berpikir panjang, Ia langsung menyatakan “Ok” terhadap panggilan Negara ini, meskipun Ia rela tak sempat mengikuti wisuda di kampus P3B Semarang. Padahal saat itu Ia juga dihadapkan 2 pilihan peluang kerja yakni di Kapal Pertamina dan di kapal perusahan minyak Kuwait. “Saat itu yang mengantar penggilan wajib militer ke rumah adalah orang Koramil, dan disarankan untuk tidak menolak, sebab, dalam panggilan itu ada ancaman kalau tidak mematuhi akan mendapatkan sanksi sebagai pelanggaran sesuai undang-undang darurat militer,” kata Yusuf Ali, saat diwawancarai oleh Reporter KAP3B News. Tidak salah jika Yusuf Ali ”dicomot” oleh Negara dari Singosari untuk dididik lebih lanjut di Ke Militeran di Magelang itu, sebab, ternyata dari Magelang itu Yusuf Ali yang juga pernah menjadi ‘Komandan Batalyon/ DANYON’ Taruna di “Singosari” keluar dengan dada tegap, pasalnya Ia meninggalkan Magelang sambil membawa predikat lulusan terbaik untuk sektor Matra Darat. Selesai pendidikan Wajib Militer di Magelang, langsung ditugaskan di Sulawesi dan sempat ditugaskan untuk gabung Batalyon Infantri 711 pada operasi di Timor-Timur. Selanjutnya, ia berkesempatan mengikuti pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira dan setelah itu pada tahun 1998 ia masuk di Kopassus. Karirnya dinilai “OK” dan Ia kembali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat di Bandung. Dasar memang pria yang satu ini tergolong “encer IQ-nya” sehingga Ia sempatkan pula melanjutkan pendidikan S-1 Ekonomi pada tahun 1989 s/d 1994 dan juga S2 (jurusan Magister Management) Di UPN Veteran Jakarta di tahun 2003 s/d 2004. Tahun 2004 alhamdulilah lulus dua pendidikan, yakni di Sekolah Staf Komando AD Bandung dan S-2 nya di Jakarta, ” kata Yusuf. Ia juga pernah menjadi Guru militer dan menjadi Komandan Satuan Pendidikan Kemiliteran (atau bahasa awamnya Kepala Sekolah Militer).

       Ia juga pernah memegang jabatan Komandan Batalyon, Yon Bekang-4/Air di Tanjung Priok dari tahun 2006 s/d 2009 (Maret) yang selanjutnya dikembalikan lagi ke pos-nya semula di Kopassus sebagai Kepala Pembekalan Angkutan Kopassus di Cijantung hingga saat ini. Ditanya soal kesan selama pendidikan di kawah Bumi Singosari, pria kelahiran 3 Januari 1965 dan kini dikarunia 3 anak ini mengaku paling terkesan dibandingkan dengan proses pendidikan lainnya yang Ia ikuti. “Di Semarang itu waduh, benar-benar sulit terlupakan, banyak sekali kesan karena kita di dalam asrama. Pokoknya banyak sekali pengalaman di asrama yang kadang orang menyebutnya dengan guyonan sebagai masa “jahiliyah”,” ungkap Yusuf Ali setengah mengenang. **KAP3B NEWS**