Get Adobe Flash player

Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today572
Yesterday724
This week3573
This month6411
Total789516

Visitor IP : 34.204.187.106
Unknown ? Unknown Sat 11 Jul 2020 21:33

      Di Indonesia, memang repot mengelola pelabuhan bertaraf internasional yang didekatnya ada makam. Salah satunya adalah TPK (Terminal Peti Kemas) Koja Jakarta Utara. Sebenarnya tidak ada masalah, namun lantaran orang kita masih ada tradisi ziarah makam, maka dari kacamata ISPS Code keberadaannnya dapat merugikan terminal itu. Saat musim ziarah kubur, maka terminal itu dinilai rawan dan tidak steril. Ya, tak jauh dari akses pintu masuk Terminal Petikemas Koja, Jakarta Utara, ada makam keramat . Sampai saat ini oleh sebagian peziarah makam tersebut masih aktif dikunjungi secara periodik. Saking keramatnya, konon makam itu tak sanggup untuk direlokasi, meskipun kanan-kirinya telah diapit area terminal peti kemas. Celakanya, ketika tim dari US Coast Guard berkunjung ke TPK itu pada 24 Agustus 2007, ternyata pada hari yang bersamaan, jalur masuk ke TPK Koja sedang didatangi ratusan orang. Mereka tak lain adalah para jemaah yang sedang melakukan “haul” (peringatan) terhadap leluhur, dengan mengunjungi makam seorang habib di sekitar TPK Koja tersebut yang menurut sementara pihak, adalah pembawa pertama ke Jakarta. Meski sampai saat ini, tak ada literatur yang menyatakan bahwa daerah tersebut adalah situs budaya yang layak dipertahankan, ternyata kedatangan ratusan orang tersebut menjadi gangguan dalam penilaian. Paling tidak, mulai akses pintu masuk ke pintu makam yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari pintu TPK Koja yang merupakan lini I yang cukup vital. Kontan saja, pihak utusan Negeri Adidaya itu tak mau tahu bahwa orang-orang ke makam itu hanya berdoa dan “kondangan” dan tak akan jadi teroris, seperti Amrozi CS. Buntutnya, terbitlah hasil assessment visit USCG bahwa TPK Koja dimasukkan ke dalam kategori Facilities Not Significantly Implementing The ISPS Code oleh US Coast Guard. Predikat tak sedap ini sempat membuat pusing manajemen TPK Koja. Bagaimana tidak, menurut Sunugroho yang menjabat sebagai Direktur Operasi dan PFSO, konsekuensi yang timbul terhadap pelabuhan yang signifikan tidak meng-implementasikan ISPS code adalah pemberlakukan PSA (Port Security Advisory) 1 - 08 efektif berlaku mulai tanggal 10 Maret 2008. PSA 1 - 08 adalah seperangkat prosedur keamanan ekstra yang harus dilakukakan pelabuhan yang bersangkutan agar kapal-kapal yang pernah berlabuh dapat diterima masuk berlabuh di pelabuhan-pelabuhan AS. Ketentuan ini harus diberlakukan pada 5 (lima) pelabuhan terakhir sebelum masuk ke pelabuhan di AS. Dengan demikian, apabila ada kapal yang singgah di TPK Koja yang tidak comply ISPS Code bila akan melanjutkan perjalanan ke AS maka TPK Koja dan 4 (empat) pelabuhan berikutnya harus menerapkan PSA 1 - 08. Sebuah ketentuan yang cukup merepotkan bagi kapal ybs dan juga pelabuhan yang hendak disinggahinya. Walhasil bila ingin leluasa pasti kapal tersebut akan menghindari sandar di TPK Koja. “Tapi setelah kita lakukan pembenahan dan port security plan, akhirnya kita dinyatakan kembali comply ISPS Code. Untuk pembenahan ini kita mengeluarkan anggaran sampai Rp1 miliar,” kata Sunugroho yang juga sebagai anggota Korps Alumni P3B angkatan III dengan NRP. 23216 N. Setelah dipusingkan oleh Makam Keramat dan US Coast Guard, kini manajemen TPK Koja bolehlah sedikit tersenyum. Sebab, ternyata laporan akhir tahun 2008 mencatat bahwa produksi bongkar muat peti kemas TPK Koja mencapai target, yakni 700 ribu TEU’s (Twenty feet Equivalent Units). (***KAP3B News***)