Saturday, 22nd September 2018 18:27:26

5 Agenda “Hajatan 2 Bulanan” KAP3B Semarang Zona Jawa Timur

 

Sebagai sarana memperkuat kualitas silaturahmi, Korps Alumni Pendidikan Perwira Pelayaran Besar (KAP3B) Semarang Zona Jawa Timur  kemarin, Selasa 13 Februari 2018 menggelar pertemuan rutin 2 bulanan. Kali ini acara digelar di di Monumen Yos Sudarso Surabaya.

M. Verryno -11

Ketua KAP3B Zona Jawa Timur, M. Verryno -11 mengatakan, selain bersilaturahmi sesama Bedjaner’s di Zona tersebut, juga membahas hal-hal perkembangan dunia kepelautan dan masalah internal organisasi. Setidaknya ada 5 agenda yang menjadi konsen dalam pertemuan itu, antara lain 1. Tetap jaga kekompakan dan kebersamaan, 2. Menerima informasi kasus kapal ditangkap di Singapore yang di dalamnya ada sejumlah Alumni “Singosari” dengan bijak, 3. Merubah pola dukungan tim pedang pora yang disepakati tidak harus  mengandalkan Taruna dari  “Singosari” (Kampus PIP Semarang) dan diupayakan didukung dari personel Zona masing-masing daerah demi efisiensi biaya. 5. Membuat perencanaan kegiatan 2018.

-----Kolonel Laut (P) Capt. I Dewa Putu GS, M.Mar----

Menyoal persoalan kepelautan secara makro, Sekjen DPP KAP3B Semarang , Kolonel Laut (P) Capt. I Dewa Putu GS, M.Mar. dalam kesempatan itu kepada media mengatakan, keprihatinan yang masih menyelimuti nasib pelaut Indonesia dirasakan keluarga besar alumni sekolah pelayaran KAP3B Semarang, pasalnya standar upah seorang pelaut dengan setumpuk kelengkapan yang telah disyaratkan IMO belum seimbang.

Menurut Dewa, memang kita merasakan kalau pelaut yang ada sekarang dihadapkan dengan kondisi pahit. Bagaimana tidak, mereka (pelaut.red) harus memenuhi standart International Maritime Organization (IMO) tapi upahnya tidak sesuai. Sepertinya perusahaan pelayaran seolah membenturkan antara jumlah lapangan pekerjaan dengan jumlah pelaut yang ada bahkan bisa dibilang berbanding 25 persen.


“Sehingga persaingan yang begitu ketat dimanfaatkan oleh pengusaha dengan memberi standart gaji yang masih kurang sesuai,” terang Dewa.


Dewa sendiri melihat hingga saat ini,  peranan Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) tidak berjalan untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga ia mengusulkan KPI  bermetamorfosis menjadi organisasi baru yang lebih bisa mengerti tentang keluhan pelaut sebagai anggotanya.


“Namun demikian telah ada organisasi baru Asosiasi Pelaut Indonesia meski ruang lingkupnya masih di Asia yang mulai bergerak mulai hadir untuk membantu para pelaut yang sedang bermasalah,” akunya.


Terkait dengan pertemuan rutin Zona Jawa Timur itu, Dewa mengatakan melalui silaturahmi semacam ini juga menjadi ajang tukar informasi masalah peluang pekerjaan yang ada sehingga rekan alumni bisa terbantu. Selain itu, wadah ini adalah sebagai jembatan sehingga tidak “ kepaten obor “ (putus hubungan.red).


“Kalau memang ada alumni yang butuh dibantu maka bisa kita carikan solusinya,” imbuh Dewa.

*News