Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today4
Yesterday1211
This week8353
This month11737
Total992363

Visitor IP : 18.206.177.17
Unknown ? Unknown Sun 11 Apr 2021 00:07

 Perairan Somalia masih menjadi “Jalur maut” bagi kapal niaga. Bukan rahasia lagi, jika kapal niaga berhasil “disatroni” perompak maka nyawa taruhannya, karena di tangan perompak  tak lepas dari kokangan senjata api dalam aksinya. Salah satu peristiwa “momok” dan ancaman maut di perairan Somalia, baru-baru ini pernah dialami oleh  Capt. Nur Wakhiddiyanto 30.

Kepada Reporter KAP3B, Ia mengisahkan pengalaman “Spot jantung”nya itu saat menakhodai kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) Pertamina Gas 2.

 Berikut  kisahnya:  Kapal berangkat dari Tanjung  Sekong, Merak pada  Tanggal 7 Januari 2021. Awalnya kapal tidak dibekali dengan Pengawal yang biasanya menggunakan Arm Guard  atau Tentara Pengawal  untuk  melewati perairan Somalia. Tanggal  8 Januari 2021,  Nakhoda Kapal  Capt. Nur Wakhiddiyanto- 30 mengajukan permintaan Arm Guard dan disetujui untuk menaikkan Arm Guard di floating armoury MV Grey Palm yang posisinya berada di Arabian Sea.  Jumlah crew kapal itu 27 orang termasuk Nakhoda.

Tanggal  18 Januari 2021,  VLGC Pertamina Gas 2 menjemput Arm Guard di MV Grey Palm dan pagi harinya pukul 09.00 dilakukan security drill bersama Arm Guard yang berasal dari Srilanka itu. Mengingat  hendak memasuki high risk area perairan Somalia. Dalam hal ini, Crew kapal Pertamina Gas 2 diharuskan oleh Arm Guard untuk memakai rompi anti peluru.

 Dan benar ancaman maut di Somalia itu bukan isapan jempol. “Tanggal  19 Januari 2021 Kami disergap dua speed boat perampok Somalia,  dan  Arm Guard beraksi dengan  melepaskan tembakan  senjata yang dibawa dan boat perompak itu langsung pergi menjauh,” kata   Capt. Nur Wakhiddiyanto -30.

 Tanggal 22 Januari 2021,  kapal sampai di  Jeddah untuk  bunker LSFO.  Tanggal 25 Januari 2021 kapal sampai di pelabuhan muat yaitu Yanbu, Madinah. Tanggal  26 Januari  kapal Pertamina 2 bertolak dari Yanbu Port menuju pelabuhan bongkar di Tanjung  Uban Indonesia.

Saat perjalanan kembali ke Indonesia itu, Kapal Pertamina Gas 2  dihadapkan pada cuaca buruk sewaktu melewati Red Sea dengan  kecepatan angin 45 knots dan ombak 6 meter.

“Kami kembali melewati Bab el Mandeb, sebuah high risk area untuk  kembali ke Indonesia. Tanggal  30 Januari  jam 04.30  Kami kembali  disergap oleh Perampok. Sekali lagi Arm Guard sigap beraksi dengan memberikan signal lampu, dan perampok akhirnya pergi” katanya, dengan nafas lega.

Selanjutnya Kapal sampai di Srilanka 05  untuk  menurunkan Arm Guard. Kapal Pertamina Gas 2 itu kembali  berlayar menuju Tanjung  Uban dan tiba pada tanggal 10 Februari 2021  jam 12.30 dengan  selamat.

Dengan mengucapkan Syukur, Capt. Nur Wakhiddiyanto- 30  mengakhiri kisahya singkatnya bahwa Kapal DWT  54.683 Tons yang dibawanya itu telah selesai mengemban tugas lifting cargo di Yanbu. ***(News/Hbb)