Get Adobe Flash player

Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today436
Yesterday1030
This week7020
This month6186
Total952165

Visitor IP : 3.239.158.36
Unknown ? Unknown Sun 07 Mar 2021 08:30

 Siang itu, sebuah rumah panggung kecil  di tengah hutan yang jauh dari perkampungan penduduk, namanya Kampung Arso 8, Distrik Arso Kabupaten Keerom, Jayapura Papua , mendadak sedikit riuh aksi anak-anak lantaran seorang laki-laki “asing” tengah mengunjungi panti asuhan Shalom.  Dia adalah Aris Priyanto , (“Bedjan”) 35, Anggota tim Bidang Humas  & Umum  DPP KAP3B Semarang yang memang sedang ditugaskan oleh kantornya di wilayah Papua.

 Panti asuhan Shalom hanya sebuah rumah panggung kecil di tengan hutan yang dihuni oleh anak-anak khusus suku Korowai umur 3 s/d 12 thun. Suku Korowai ditemukan sekitar 35 tahun yangg lalu adalah suku primitif di Papua yang hidupnya sangat terisolasi dengan rumah di atas pohon serta terkenal dengan kanibal memakan daging manusia.

 Anak anak ini diambil dari hutan untuk dididik dan dilatih sebagai pondasi dasar perilaku manusia yang normal, setelah umur 12 tahun mereka dikembalikan ke sukunya dengan harapan dapat menularkan perilaku normal ke yang lainnya

 Aris-35 juga tidak sengaja datang ke panti asuhan ini karena diajak salah satu temannya. Pertama kali datang dipersilahkan untuk perkenalan dan menyebutkan profesi agar anak-anak tersebut termotivasi dengan berbagai profesi, Aris-35 menyebutkan bahwa dia berprofesi sebagai Pelaut.

 Mendengar jawaban itu, mereka langsung menyambar bahwa “Opung”nya adalah juga seorang Pelaut.

 Aries-35 pun penasaran dan meminta untuk dipertemukan dengan kakeknya itu. Dan.. bertemulah mereka berdua, tegur sama serta  saling memperkenalkan diri. Tiba-tiba terhentak sejenak pikiran Aris-35 saat Sang  “Opung”  itu mengatakan bahwa Ia juga pelaut jebolan “Singosari” Semarang, dia adalah   Harison Manurung-13. 

 Dramatis…dan ini adalah sebuah keajaiban Tuhan. Senior dan Yunior yang hidup di “ruang dan waktu yang jauh berbeda” bisa dipertemukan. Seketika mereka saling berpelukan, seolah seperti dipertemukan dengan “Sedulur”.

 Rasa haru seketika tak bisa disembunyikan antara keduanya. Seketika saling berpelukan erat. Seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

 Diceritakan Aris-35, bahwa Harison Manurung-13, sempat berlayar sekitar 10 tahun. Dan pada akhirnya  hatinya terketuk  untuk terjun di dunia sosial kemanusiaan di sisa hidupnya. Ia sengaja “memutus rantai” dengan kehidupan normalnya seorang Bedjaner’s, sudah 24 tahun memilih mendedikasikan hidupnya untuk kehidupan anak-anak suku Korowai dan tinggal di pedalaman yang terisolir di  Kampung Arso 8, Distrik Arso Kabupaten Keerom, Papua.

Namun begitu bertemu dengan Aris-35, dengan semangatnya menceritakan kesan di asrama sebagai Taruna dan pengalaman berlayar, Opung Harison Manurung-13 sangat rindu dengan teman-teman Bedjaner's Singosari. Semoga Bedjaners lainnya bisa mengunjungi Opung , itulah harapan Aris-35  penuh hati.**(News/Habib)