Get Adobe Flash player

Login KAP3B

Rekening KAP3B

Web counter

Today455
Yesterday618
This week455
This month3187
Total908555

Visitor IP : 54.208.73.179
Unknown ? Unknown Mon 18 Jan 2021 17:32

 

Alumni  “Singosari” Angkatan -16  yang  juga menyebut   dirinya sebagai  “Singo-16”  membuktikan sebagai  bagian dari  Korps Alumni P3B Semarang  yang  tetap solid dalam berinteraksi social.

 Dalam berbagai kesempatan, sejumlah  personil  Singo-16  saling bersilaturahmi. Pertemuan  dikemas dengan  bermacam acara informal, seperti arisan , menghadiri  yang    “hajatan mantu”  menyambangi kalau  ada yang sakit atau yang meninggal dunia.

 Simbol kesolidan Singo-16  puncaknya dibuktikan  dengan   menggelar sebuah event  yang cukup fenomenal di kalangan Alumni, yakni Reuni Akbar napak tilas ke  Kampus “Singosari”   setelah Mereka “Lepas Landas” dari  kampus itu sekitar  30 tahun yang lalu.  Acara  itu dilaksanakan  pada  hari Sabtu Tanggal 11 Oktober 2014 lalu di Kampus  yang  kini menjadi  PIP Semarang.

 Kehadiran Singo-16 ke PIP Semarang  mendapat apresiasi tersendiri bagi  M.Chairul  Djohansyah, ST. M.Mar.E, selaku  Direktur  lembaga itu. Apresiasi  disampaikan  dalam sambutannya  pada Apel Pagi Taruna  PIP Semarang  untuk menyambut  “Taruna -16 “  sebagai Saudara Tua.

 Langkah Singo-16 itu juga dinilai  Direktur PIP Semarang  bisa  bermakna  edukasi karena bisa memberikan motivasi kepada Yunior yang  masih menjalani  pendidikan di Kampus  itu. “Juga akan menjadikan motivasi  tersendiri  bagi  Taruna, karena kelak setelah  keluar pagar,  Mereka tidak  merasa sendiri,  banyak Senior  tersebar  di berbagai  penjuru  yang  tentunya  siap membantu,” kata Direktur PIP Semarang.

 Menurut  catatan Direktur PIP Semarang, kehadiran Singo-16 cukup membanggakan sebagai Alumni, karena  bisa hadir  51 orang.   Hal ini cukup beralasan,  kerena disadarinya tidak mudah mengumpulkan Alumni sebanyak itu dan bisa sepakat  memilih waktu  untuk menyempatkan berkunjung  ke Kampus. 

 Sebagai informasi, jumlah Taruran Angkatan 16 sebanyak 120 rang. Artinya,  kehadiran Singo-16 itu  hampir 50% dari jumlah Alumni Angkatan 16 .

 


 

Antusias

 Selama hampir seharian, Singo-16 menghabiskan waktu untuk  melaksanakan sejumlah agenda di Kampus PIP Semarang.  Setelah Apel Pagi dengan Komandan Pasukan  Kol. Sunarnohadi, Singo-16 dan Keluarganya disuguhi atraksi Marching Band  yang  memukau kebanggaan PIP Semarang.  

 Terang saja, aksi Marching Band  itu kontan membuat  sejumlah Singo-16 dan Keluarganya  makin antusias menikmati acara  itu. Bahkan, aksi  spontan  untuk berfoto  dengan back ground  wajah Marching Band   tak dapat dihindari dari Singo-16 dan Keluarganya.

 Terik matahari yang kian menyengat  hari itu, tak menyurutkan semangat Singo-16 dan Keluarganya untuk terus  melanjutkan agendanya. Usai  menikmati aksi heroik  Marching Band,  Mereka  bersama dengan Taruna dan Taruni selanjutnya melakukan senam bersama.  Berbaur layaknya keluarga.

 Usai  rehat kopi sejenak, Singo-16 dan Keluarganya melakukan  jalan santai mengelilingi  Kampus  dan berlanjut dengan  menengok kembali  asrama tempat  Singo-16 dulu menjalani  “Kawah Condrodimuko” yang  sarat  dengan  kenangan  pahit  getir sebagai Taruna.  Bahkan, tak sedikit  yang  menjajal  lagi  berbaring di kamar  Mereka dulu dengan berbagai celetukan lucu yang menggambarkan  keadaan dulu.

 Makan  pake ayam , fisik dulu…

 Soal  makan, Singo -16  juga  ingin kembali  mengenang  bagaimana rasanya   menikmati  prosesinya. Yakni,  berjemur-jemur dulu sebelum  santap siang. Bahkan, konon  Mereka  kalau  mau  makan  dengan lauk  ayam  harus  melewati  “ujian fisik”, seperti  jalan  bebek  atau  loncat kodok  dari  lapangan  menuju  ruang Menza  (tempat  makan). 

 Demikan halnya  Singo-16  saat itu.  menjelang  santap  siang, Mereka harus rela bersama dengan Taruna  untuk apel siang  di bawah  panasnya  terik matahari. Belum selesai di situ, sebelum memasuki Ruang Menza,  Panitia  membuat  scenario  semua Singo-16  tak terkecuali  harus  jalan jongkok melewati  lorong  dari  kursi disusun, karena memang  akan makan siang lauk ayam.

 “Ampun Senior….ampun senior….” Teriak mereka sambil jalan jongkok  yang  dipandu  oleh  Panitia yang kebetulan diprakarsai oleh  sejumlah Senior, seperti  Dewa -11  mewakili  DPP KAP3B dan Pieter-10 mewakili  KAP3B Zona Khusus Semarang .

 

Tak cukup disitu mereka “dikerjai” oleh Seniornya.  Ketika sedang nikmat-nikmatnya  santap siang bersama Taruna,   baru beberapa sendok nasi  dengan sepotong  ayam  goreng, tiba-tiba  Piter-10 meniup pluit  tanda  bahaya  gempa yang artinya semua  harus  tiarap masuk kolong meja, tak terkecuali  Singo-16  harus ikut  peraturan itu. Kontan saja, pemandangan ini  membuat  suasana gerrr.. khususnya di kalangan Keluarga Singo-16.

 Usai makan siang, Mereka istirahat  sejenak dan selanjutnya beberapa  Persolnil Singo-16 memberikan  pembekalan dan berbagi  motivasi dengan  Taruna/Taruni yang  baru.

 Sepeda Onthel

 Agar  terasa membekas  hadirnya  Singo-16  dalam ingatan  keluarga besar  Kampus PIP Semarang,  Singo -16 memberikan cindera mata yang  tergolong  unik, yakni sejumlah sepeda ontel ( model sepeda  gunung). Menurut Ketua Panitia  Renuni Singo -16, Kol. (Laut)  M. Mursyid, spirit dan makna filosofis sepeda “gowes” tersebut adalah sebagai bentuk sikap Singo-16  mendukung  upaya mengurangi gas emisi, karena sepeda itu bisa dipakai untuk sarana transportarsi  jarak pendek yang nyaman, efisien dan tanpa polusi serta menyehatkan.

 Ziarah Pak Bedjan

 Di penghujung kunjungan Kampus itu, Singo-16 berkesempatan  berziarah ke Makam Pak Bedjan untuk mendoakan figur yang sangat  fenomenal di mata Taruna Singosari dulu. Sosok Bedjan sebagai instruktur yang  sangat  disegani namun  sejatinya baik hati dalam  menyiapkan mental  Taruna. Ia mengajar  murni menjalankan tugas apa adanya dalam  mencetak  mental baja Tarunanya.

 

Usai berdoa bersama,  Ketua  Panitia M. Mursyid menyampaikan  beberapa pesan moral  yakni agar  Mereka selalu berdoa dan mengenang sosok Pak Bedjan sebagai salah satu inspirasi dan motivasi. “Kita bisa begini tak lepas dari peran Pak Bedjan, maka Kita doakan agar selalu damai di sisiNYa,” ungkap Mursyid menutup acara ziarah yang diiringi dengan  tabur bunga sebagai symbol penghormatan kepada “Bapak Taruna” itu. Bravo Singo-16…

 (…….bersambung)